Senin, 02 Mei 2011

transformasi teks sasstra klasik


TRANSFORMASI TEKS SASTRA KLASIK “ LEGENDA SANGKURIANG” SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN
Oleh Nurul Hikmah

A.    Pendahuluan
Sastra memang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Bukan hanya unsur estetis, filosofis, imajinasi dan emosionalnya yang memberi asupan vitamin batin manusia, tetapi sastra juga mampu menjadi media rekaman sekaligus rujukan literatur yang patut diperhitungkan dalam upaya penelisikan sejarah umat manusia.
Sastra Indonesia klasik tidak diketahui kapan munculnya. Yang dapat dikatakan adalah bahwa Sastra Indonesia Klasik muncul bersamaan dengan dimulainya peradaban bangsa Indonesia, sementara kapan bangsa Indonesia itu ada juga masih menjadi perdebatan. Yang tidak disepakati oleh para ahli adalah kapan sejarah sastra Indonesia memasuki masa baru. Ada yang berpendapat bahwa Sastra Indonesia Klasik berakhir pada masa kebangkitan nasional (1908), masa Balai Pustaka (1920), masa munculnya Bahasa Indonesia (1928), ada pula yang berpendapat bahwa Sastra Indonesia Klasik berakhir pada masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (1800-an).
Budaya Indonesia memang sangat beragam dan hal itu akan tampak dalam khazanah sastra Indonesia yang terwujud dalam sastra-sastra daerah di seluruh nusantara. Keanekaragaman budaya yang tercermin dalam karya sastra itu hanya dapat dipahami secara nasional apabila menggunakan bahasa nasional pula. Oleh sebab itu, transformasi sastra dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia merupakan suatu keharusan. Hal ini, agar siswa pada setiap jenjang sekolah telah sangat mengenal cerita rakyat daerah yang sudah menasional, seperti Sangkuriang, yang bersumber dari cerita rakyat daerah Sunda.
Yang jadi permasalahan sekarang yang jadi permasalahan, apakah Cerita rakyat yang beredar bermanfaat bagi pendidikan?

B.     Pembahasan
Cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya, seperti agama dan kepercayaan, undang-undang, kegiatan ekonomi, sistem kekeluargaan, dan susunan nilai sosial masyarakat tersebut. Dahulu, cerita rakyat diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam masyarakat tertentu. Menurut Djames Danandjaja, di antara ciri-ciri cerita rakyat, antara lain:
  • Penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan.
  • Bersifat tradisional, yakni hidup dalam suatu kebudayaan dalam waktu tidak kurang dari dua generasi.
  • Bersifat lisan, sehingga terwujud dalam berbagai versi.
  • Bersifat anonim, yakni nama penciptanya sudah tidak diketahui lagi. Maka, ia menjadi milik bersama dalam masyarakatnya.
  • Mempunyai fungsi tertentu dalam masyarakatnya, misalnya sebagai media pendidikan, pengajaran moral, hiburan, proses sosial dan sebagainya.
  • Bersifat pralogis, yakni mempunyai logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika ilmu pengetahuan, misalnya seorang tokoh adalah keturunan dewa atau proses kelahirannya tidak wajar seperti Karna dalam epos Mahabharata yang dilahirkan melalui kuping ibunya.
  • Pada umumnya bersifat sederhana dan seadanya, terlalu spontan dan kadang kala kelihatan kasar, seperti yang terlihat pada anekdot dan sebagian cerita jenaka. Namun dalam perkembangannya, sebagian cerita rakyat telah disusun dalam bentuk bahasa yang lebih teratur dan halus.
Pada umumnya, cerita-cerita rakyat mengisahkan tentang terjadinya berbagai hal, seperti terjadinya alam semesta, manusia pertama, kematian, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam tertentu, tokoh sakti yang lahir dari perkawinan sumbang, tokoh pembawa kebudayaan, makanan pokok (seperti padi, jagung, sagu, dsb.), asal-mula nama suatu daerah atau tempat, tarian, upacara, binatang tertentu, dan lain-lain. Adapun tokoh-tokoh dalam cerita rakyat biasanya ditampilkan dalam berbagai wujud, baik berupa binatang, manusia maupun dewa, yang kesemuanya disifatkan seperti manusia.
Cerita rakyat sangat digemari oleh warga masyarakat karena dapat dijadikan sebagai suri teladan dan pelipur lara, serta bersifat jenaka. Oleh karena itu, cerita rakyat biasanya mengandung ajaran budi pekerti atau pendidikan moral dan hiburan bagi masyarakat pendukungnya. Pada masa sebelum tersedianya pendidikan secara formal, seperti sekolah, cerita-cerita rakyat memiliki fungsi dan peranan yang amat penting sebagai media pendidikan bagi orang tua untuk mendidik anak dalam keluarga. Meskipun saat ini pendidikan secara formal telah tersedia, namun cerita-cerita rakyat tetap memiliki fungsi dan peranan penting, terutama dalam membina kepribadian anak dan menanamkan budi pekerti secara utuh dalam keluarga.
Saat ini, cerita-cerita rakyat tidak hanya merupakan cerita yang dikisahkan secara lisan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi berikutnya, akan tetapi telah banyak dipublikasikan secara tertulis melalui berbagai media. Peranan para tukang cerita sebagian besar telah diambil alih oleh media cetak maupun elektronik. Meskipun demikian, ciri-ciri kelisanannya tetap melekat padanya. Media cetak dan elektronik hanya merupakan alat penyebar dan pelestari cerita rakyat tersebut.
Cerita rakyat adalah karya sastra klasik yang harus diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah. Penyampaian materi sastra dalam mata pelajaran tersebut sangat bermanfaat, terutama dalam meningkatkan cipta dan rasa serta pengalaman budaya siswa. Manfaat itu relevan pula dengan salah satu tujuan dan fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia seperti yang tertera dalam Kurikulum 2004, yaitu sebagai sarana pemahaman keberanekaragaman budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia.
Cerita rakyat Sangkuriang merupakan hasil sastra lisan yang berbentuk naratif. Sastra lisan bersifat didaktif yaitu mengandung unsur pengajaran dan pendidikan moral kepada masyarakat tradisi.Cerita-cerita lisan ini terselip nasihat, pengajaran, teladan, yang sangat berguna sebagai panduan ke arah kesejahteraan hidup masyarakat. Misalnya anak-anak dinasihati agar tidak mengamalkan sifat tamak, takabur, sombong dan congkak seperti mana yang terdapat pada sifat-sifat tokoh tertentu dalam cerita atau legenda. Melalui cerita rakyat  seperti “Sangkuriang”, siswa dididik agar tidak durhaka kepada kedua orang tua karena anak yang durhaka tidak akan selamat hidup di dunia dan akhirat. Begitu juga dalam cerita-cerita roman,ditonjolkan sifat kesetiaan kepada pemimpin, sikap dan amalan gotong-royong,kerjasama dan tolong menolong yang banyak membawa manfaat dan keberkatan terutama dalam mengujudkan sebuah masyarakat yang harmoni dan sejahtera. 
Implementasi transformasi cerita rakyat Sangkuriang bisa kita lihat pada SK-KD kelas X semester 2 pada pembelajaran mendengarkan.
Mendengarkan
Memahami cerita rakyat yang dituturkan 




1.      Menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman  
2.      Menjelaskan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau  melalui rekaman 
Dalam proses pembelajarannya, guru dituntut kreatif dan menyenangkan, agar materi Cerita Rakyat menjadi materi yang tidak membosankan dan tujuan pembelajaranpun tercapai. Metode yang digunakan pun haruslah semenarik mungkin, agar daya tarik siswa terhadap sastra klasik semakin besar.
(Legenda Rakyat Minangkabau, diceritakan kembali oleh “Bunda Naila”)
Nilai yang terkandung pada cerita tersebut banyak mengandung pendidikan moral dimana kita meski menghormati orang tua dan tidak sombong akan kehidupan. Banyak pula cerita-cerita rakyat yang hanya bermuatkan dongeng dan kearifan. Contohnya di Jawa Barat legenda Sangkuriang sebagai berikut.
Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.
Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi. Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya.
Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.
Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah berubah total. Rasa senang Sangkuriang tersebut bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat.
Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hatan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kapalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.
Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.
Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Apabila Sangkuriang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. Syarat yang pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. Dan yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing. Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.
Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira kalau hari sudah menjelang pagi. Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi.
Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.
           

Penutup
Bisa di lihat jika nilai dari pendidikan dalam cerita ini banyak mengandung muatan mitologi dan cerita saja. Cerita rakyat memang tidak terlalu berpengaruh pada pendidikan formal namun sangat membantu masyarakat di dalam segi pendidikan moral. Disamping itu cerita-cerita rakyat hanya bisa sebagai pendekatan kebudayaan karena terlahir dari kearifan masyarakat itu sendiri.
Para orang tua selalu menjadikan kisah Sangkuriang sebagai pilihan pertama saat bercerita kepada anak-anak mereka. Legenda Sangkuriang seolah tak lekang oleh waktu. Dari generasi ke generasi kisahnya dihidupkan, diberi beragam tafsir dan persepsi, serta penambahan “bumbu” agar lebih menarik. Para orang tua seperti tak bosan-bosan menceritakan kisah kasih tak sampai seorang anakkepada ibunya itu.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2004). Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA).  Jakarta: Depdiknas.
Ibnu Thalab, Muhtar. (2009). Sangkuriang dalam Legenda . [Online]. Tersedia:
Sumiyadi. (2008). Sastra Pendidikan dan Pendidikan Sastra. [Online]. Tersedia: http://xpresisastra.blogspot.com/2008/06/sastra-pendidikan-dan-pendidikan-sastra.html [4 November 2010]
Suyoto, Agustinus. (2007). Sastra Melayu Klasik Sastra Indonesia Lama. [Online]. Tersedia: http://oyoth.multiply.com/journal/item/5 [4 November 2010]
Sulton, Agus. (2010). Forum Sastra Jombang. [Online]. Tersedia:http://forumsastrajombang.blogspot.com/










apresiasi seni


 APRESIASI SENI
Pengertian apresiasi
Secara leksikografis, kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris apreciation, yang berasal dari kata kerja to Apreciate, yang menurut kamus Oxford  berarti to judge value of; understand or enjoy fully in the right way; dan menurut kamus webstern adalah to estimate the  quality of to estimate rightly tobe sensitevely aware of. Jadi secara umum me-apresiasi adalah mengerti serta menyadari sepenuhnya, sehingga mampu menilai secara semestinya.
Dalam kaitannya dengan kesenian, apresiasi berarti kegiatan meng-artikan dan menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni serta menjadi sensitif terhadap gejala estetis dan artistik sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut secara semestinya. Dalam apresiasi, seorang penghayat sebenarnya sedang mencari pengalaman estetis. Sehingga motivasi utama yang muncul dari diri penghayat seni adalah motivasi untuk mencari pengalaman estetis.
Pengalaman estetis menurut  Albert R. Candler adalah kepuasan kontemplatif atau kepuasan intuitif. Sedangkan Yakob Sumardjo menjelaskan  pengalaman seni adalah keterlibatan aktif dengan kesadaran yang melibatkan kecendekiaan, emosi, indera dan intuisi manusia dengan lingkungan (benda seni) (2000, 161). Dalam proses pengalaman estetis unsur perasaan dan intuisi lebih menonjol dibandingkan  nalar; itulah sebabnya maka dalam proses tersebut penghayat seni seolah kehilangan jati dirinya karena seluruh kehidupan perasaannya larut ke dalam obyek seni, dan inilah yang disebut dengan empati.. Proyeksi perasaan tersebut bersifat subyektif dan sekaligus obyektif. Artinya subyektif karena penghayat menemukan kepuasan atau kesenangan dari obyek seninya dan obyektif  karena proyeksi perasaan itu berdasarkan nilai-nilai yang melekat pada benda seni tersebut. Kualitas seni yang ada dalam karya tersebut mengalirkan pengalaman secara dinamis dan akhirnya mendatangkan kepuasan. Kualitas suatu karya biasanya muncul karena adanya pola yang jelas yang  terjalin pada unsur/elemen seni sehingga membentuk sebuah struktur. Dalam seni rupa struktur tersebut ada pada rasa unity, balance, harmony, rythm, proportion, point of interest, contrast dan discord.
Seorang apresian dalam melakukan penghayatan dan penilaian terhadap sebuah karya tidak bisa dilepaskan dari persoalan persepsi yang muncul ketika berhadapan dengan karya tersebut.
Persepsi
Pada dasarnya persepsi muncul karena ada kesadaran terhadap lingkungan dan melalui sebuah proses mental terjadilah interaksi antar obyek penginderaan dan makna, sehingga dengan demikian kemunculan persepsi seseorang terhadap sebuah obyek dipengaruhi oleh banyak faktor.
Manusia mempersepsi stimulus yang diamati berdasarkan struktur pengetahuan atau skema yang ada pada dirinya. Skema yang dimaksud adalah organisasi dan intelegensi pengetahuan yang digunakan untuk menginterpretasikan masukan yang datang. Skema setiap orang berbeda sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman masing masing.Jadi persepsi adalah kesadaran kita atas dunia  sekitar berdasarkan informasi yang datang lewat pengenderaan, atau sering juga disebut sebagai kenyataan faktual kelengkapan manusia
Ada tiga jenis persepsi  yang digunakan orang dalam menilai benda benda artefak budaya yaitu persepsi praktis, persepsi analitis dan persepsi apresiatf (Stephen C Pepper, 1976: 7) di mana penggunaan masing masing jenis persepsi tersebut berbanding lurus dengan tujuan dan pola berpikir seseorang dalam memaknai obyek.
Presepsi praktis adalah kesadaran intelegensi dan respon psikologis yang diarahkan ke peroalan persoalan praktis. Dalam hal ini repon yang diberikan terhadap rangsangan dilihat dari aspek relasi-fungsional. Obyek /stimulan ditanggapi sebagai instrumen untuk mencapai tujuan akir.
Persepsi analitis adalah persepsi yang memandang stimulator sebagai instrumen untuk mendapat kualifikasi relasional baik di antara obyek lain maupun kualifikasi atas bagian per bagian dari benda itu sendiri atas dasar proses sebab-akibat; atau memasukkan setiap bagiannya ke dalam unsur yang dapat dikorelasikan dan diformulasikan ke dalam rumusan tertentu.
Sedangkan persepsi apresiatif adalah suatu usaha memandang stimulan sebagai media untuk memperoleh pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan sehingga di peroleh pengalaman estetis atas obyek yang diamati.
Situasi sosial tempat stimulus itu berada akan mempengaruhi indra dalam mempersepsi stimulus tersebut, selain itu persepsi pengamat terhadap obyek yang sama dapat berubah karena obyek ditempatkan pada lingkungan sosial yang berbeda. Faktor faktor yang mempengaruhi persepsi individu adalah : 1) pengalaman belajar (2) harapan  (3) motif atau kebutuhan dan (4) kepribadian.
Dari paparan pendapat di atas tentang persepsi tampaklah bahwa sebagian besar faktor yang berpengaruh dalam pembentukan persepsi adalah kualitas pribadi pengamat dan bukan kualitas obyek. Apapun kualitas obyek maknanya sangat tergantung pada kualitas pribadi pengamat. Makna yang merupakan pola dalam rangka pembentukan persepsi diperlukan untuk menyeleksi dan memahami lingkungan serta untuk mengembangkan bahasa dan proses berpikir. Dalam kaitannya dengan seni, istilah bahasa bisa diartikan adalah ungkapan hasil proses perasaan dan pikiran melalui elemen dan strukturnya untuk menyampaikan pesan..
    Dalam kaitannya dengan apresiasi terhadap karya seni, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi apresiasi seseorang ,yaitu;
·        Kemauan dan minat,
·        Sikap terbuka,
·        Kebiasaan,
·        Peka atau sensitif
·        Kondisi mental.
Kemauan dan minat diperlukan untuk menikmati karya; sebab tanpa kemauan dan minat apresiasi tidak akan berhasil
Sikap terbuka  diperlukan untuk menghindari sikap apriori terhadap suatu karya. Hanya karya yang disenangi yang dianggap baik, yang lain tidak.
Seorang penghayat benda seni perlu membiasakan diri menghadapi karya secara intensif agar memiliki perbendaharaan rupa, gerak dan bunyi yang memadai dan selalu bertambah dan meningkat, yang muaranya adalah muncul kepekaan terhadap segala gejala rupa, gerak dan suara/ bunyi.  yang ada di sekitarnya baik secara partial maupun secara kolaboratif.
Kepekaan menangkap gejala unsur seni dengan segala perubahannya merupakan suatu tuntutan, karena kepekaan seseorang akan membantu menelusuri sumber kreasi dan sumber estetik suatu karya.sehingga dengan demikian akan memperlancar menangkap makna yang tersirat dari yang tersurat sebuah karya.
Kondisi mental dalam rangka apresiasi adalah, intensitas seseorang dalam melakukan penghayatan. Kurangnya intensitas karena adanya gangguan psikhis akan menyebabkan apresiasi tidak maksimal. Ada beberapa mekanisme psikologis yang menyebabkan timbulnya perubahan penilaian atau evaluation mutation, yaitu
·        conditioning,
·        habituation dan
·        fatique.
Menurut Stepen C Pepper (1976) conditoning dapat terwujud dalam 4 variasi, yaitu
·        the means-to-end mutations, perubahan nilai yang terjadi pada suatu bendatanpa mengkaitkan dengan benda lain yang semula berhubungan. Misalnya pipa rokok disenangi karena bentuknya, tidak ada hubungan lagi dengan rokok atau tembakau.
·        the mechanized habit mutation,perubahan penilaian karena adanya mekanisme kebiasaan.Misalnya, anak diajak menonton pergelaran tari secara kontinyu maka lama kelamaan anak akan menyenagi tarian terebut. Kunci dari perubahan penilaian ini adalah kontinyuitas dan mekanisme yang jelas.
·        symbolic meaning, penilaian yang terjadi karena pemberian makna terhadap tanda atau simbol yang dilakukan secara terus menerus. Misalnya, warna-putih akan di maknai Indonesia, bentuk bintang dan strip akan di maknai Amerika.
·        type. Penilaian yang didasarkan pada pengolonggan ciri-ciri tertentu yang melekat pada objek. Misalnya, dinilai perempuan karena berambut panjang, memakai rok, bergaya gemulai, dan sebagainya.
Perubahan penilaian yang terjadi pada conditioning dengan segala variantnya ini bersifat sementara, sedangkan berubahan yang terjadi pada Habituation/ kebiasaan bersifat long term.
Sementara  itu ada dua jenis Fatique yang  terjadi pada manusia yaitu
·        sensory fatique, adalah kelelahan yang disebabkan oleh kelelahan inderawi
·        attentive fatique. adalah kelelahan perhatian/ kejenuhan terhadap sesuatu yang berlangsung sangat lama, sehingga konsentrasi sudah tidak stabil lagi.
         Apresiasi dan Komunikasi Seni.
Sudah seringkali kita dengar pernyataan atau kita baca, bahwa salah satu fungsi seni adalah sebagai ekspresi seseorang. Bahkan ungkapan seni adalah jiwa ketok, yang dilontarkan oleh S Sudjojono menjadi sangat terkenal di antara seniman dan pendidik seni di Indonesia.
Walaupun sesungguhnya persoalan ekspresi adalah lebih pada persoalan psychologis dari pada persoalan benda seni itu sendiri, akan tetapi karena mengamati karya seni tidaklah sekedar melihat visual form, tetapi kadang kita berusaha melihat  adanya bentuk di balik bentuk, maka persoalan ekspresi ini menjadi penting dan menarik
Saat ini istilah ekspresi lebih sering diartikan sebagai behavioral manifestations of the human personality. Manifestasi perilaku dari kepribadian manusia atau kadang kadang ekspresi didiskripsikan sebagai perceiving with imagination. Kalau yang pertama ditekankan pada pelakunya, sedangkan yang kedua ditekankan pada penerima, pengamatnya.
Dalam kaitannya dengan seni sebagai ekspresi Suzanne K Langer menyatakan: bahwa, .karya seni adalah  suatu bentuk ekspresi yang diciptakan bagi persepsi kita lewat sensa ataupun pencitraan/imajinasi, dan apa yang diekspresikan adalah perasaan insani. Namun demikian suatu konsepsi kehidupan, emosi dan kenyataan batiniah yang diekspresikan lewat karya seni pengekspresiannya tidak boleh instinktif dan stereotip. Artinya bahwa perlu jalan yang panjang, perlu pertimbangan yang penuh kesadaran tertentu untuk dapat mengekspresikan perasaan insaninya dengan tepat, sehingga ekspresi itu tidak jatuh menjadi tanda ataupun sekedar cerita tentang perasaan yang diulang-ulang, sehingga dengan demikian ekspresi rasa dalam karya seni bukanlah semata mata hal yang symptomatic Misalnya, orang yang sedang betul betul dilanda kesedihan, karya seninya tidak akan mengekspresikan kesedihan itu. Baru, setelah gejala sedih itu mengendap dan mengkristal, kemudian dituangkan dalam karya, karya tersebut akan menyiratkan kesedihannya.
Karya seni menghadirkan perasaan untuk direnungkanan oleh penghayat sehinga karya itu dapat dilihat dan didengar atau dengan berbagai cara penerimaan melalui simbol bukan melalui kesimpulan gejala. Oleh karena itu, suatu bentuk yang ekspresif adalah suatu bentuk yang dapat dipahami dan dibayangkan secara menyeluruh maksud yang dikandungnya, ataupun  juga kualitas seluruh aspek yang ada di dalamnya, sehingga bisa menggambarkan secara menyeluruh dalam beberapa hal yang berbeda yang dipunyai elemen-elemen tersebut dalam berbagai hubungan analoginya.
Karena setiap karya seni tidak tumbuh dari sesuatu kekosongan, melainkan tumbuh diantara dan dari perjalanan sejarah serta dalam suatu konteks sosial budaya, maka sebenarnya sebuah karya seni merupakan rekaman peristiwa yang dikomunikasikan  oleh seniman kepada pembaca  (penonton, pendengar). Oleh karena itu struktur karya seni baru dapat dipahami sepenuhnya bila kita melihat karya itu sebagai suatu tanda atau lambang kehihudapan.
Jadi jelaslah bahwa selain fungsinya sebagai sarana untuk mengekspresikan segala sesuatu yang tak tampak tapi ada dalam diri manusia, karya seni sebagai simbol juga berfungsi sebagai media untuk berkomunikasi.
Karya Seni dan Simbol
Manusia berfikir, berperasaan dan bersikap dengan ungkapan ungkapan yang simbolis. Manusia tidak pernah melihat, menemukan dan mengenal dunia secara langsung kecuali melalui berbagai simbol dan simbol ini mempunyai unsur  pembebasan dan perluasan pemandangan. Artinya, sebuah ide jika sudah dinyatakan dengan menggunakan simbol maka ide itu menjadi sesuatu yang multi interpretable. Bisa ditafsirkan dengan berbagai makna.
Kata simbol berasal dari bahasa Yunani symbolos yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan tentang sesuatu hal pada seseorang. Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia karya WJS Poerwadarminta disebutkan, simbol atau lambang adalah semacam tanda atau lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya yang menyatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu. (Poerwadarminta, 1976 272)
Selain animal symbolicus manusia juga merupakan homo creator, artinya bahwa manusia adalah mahluk yang selalu berkreasi. Untuk menuangkan kreasinya manusia harus selalu berkarya. Hal itu karena selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, alam sekeliling ini tidak ada arti apapun bila tidak ada karya dan sentuhan kreasi manusia.
Menurut Soren Kierkegaard, salah seorang filsuf existensialis, mengatakan bahwa  hidup manusia mengalami tiga tingkatan, yaitu estetis, etis dan religius Dengan kehidupan estetis manusia mampu menangkap dunia dan sekitarnya yang mengagumkan. Kemudian dia menuangkannya kembali rasa kekaguman tersebut dalam karya seni. Dalam tingkatan etis, manusia mencoba meningkatkan kehidupan estetisnya dalam bentuk tindakan manusiawi, yaitu bertindak bebas dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan kepada sesama. Dan akhirnya, manusia semakin sadar bahwa hidup mesti mempunyai tujuan. Segala tindakan kemudian dipertanggung jawabkan kepada yang lebih tinggi, Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam  perjalan sejarah umat manusia, telah terbukti bahwa lukisan sebagai  kreasi manusia  tidaklah berdiri sendiri. Dia adalah simbol dari sejumlah gagasan, ide, imajinasi, atas responnya terhadap alam sekitar yang diolah dari hidup perasaannya. Dan sebetulnya dalam berkarya seorang seniman tidak saja bekerja sebagai abdi alam sekitarnya akan tetapi dia juga mencari makna dirinya sendiri agar apa yang telah dipilih dan kemudian dilakukan mempunyai arti yang dapat dipertanggung jawabkan kepada sesamannya maupun kepada yang lebih tinggi, sebab tatkala manusia melahirkan batin pada benda benda alamiah disekelilingnya, maka batinnya semakin terbuka.
Elemen-elemen rupa yang memang ada karena keberadaannya sendiri, dengan segala gejala visualnya, dan dalam kondisi nirmana, mempunyai potensi untuk menjadi simbol dan kemudian berarti dan bermakna.Rupa sebagai media seni baru akan dapat bermakna bila disusun dalam satu kesatuan struktur, dan struktur sebuah karya seni baru dapat kita pahami sepenuhnya bila kita melihat karya itu sebagai suatu tanda atau lambang. Dan hanya manusialah yang berhadapan dengan sebuah karya seni dapat memberikan arti itu.
Sudah barang tentu dalam pemberian arti itupun, manusia tidak berdiri bebas dan sewenang-wenang tetapi selalu dalam arus sejarah dan lingkungan masyarakatnya. Cara dia menerima dan menyambut sebuah karya turut menentukan arti dan makna kehadiran karya tersebut.
4. Karya Seni Sebagai Bahasa
Bahasa adalah alat komunikasi atau alat penghubung antar manusia, tanpa ada alat untuk berkomunikasi maka interaksi antar manusia itu tidak akan pernah terjadi. Dalam kaitan dengan alat komunikasi maka istilah bahasa dapat berujud bahasa tulis/lisan, bahasa isyarat, misalnya bunyi peluit, morse; bahasa gerak tubuh, misalnya gerak tangan polisi pengatur lalulintas, tarian atau bahasa bentuk, misalnya gambar, termasuk di dalamnya adalah lukisan.
Bahasa sebagai alat komunikasi bersifat umum dan universal. Bila sifat itu dilihat dari fungsinya maka bahasa berfungsi sebagai:
·              Untuk tujuan praktis, yaitu komunikasi antar manusia.
·              Untuk tujuan artistik, yaitu ketika manusia mengolah bahasa guna mengungkapkan kebenaran intuitif.  Intuisi adalah suatu jenis kebenaran yang hanya dapat ditangkap lewat perasaan dan penghayatan, lewat sejumlah gambaran kongkret inderawi atau biasa disebut imajinasi.
·              Untuk tujuan filologis, yakni tatkala kita mempelajari naskah, kuno, latar belakang sejarah, kebudayaan dan lain-lain.
·              Untuk menjadi kunci dalam mempelajari pengetahuan lainnya (Gorys Keraf, 1976: 14).
Jika proses ekspresi seni dianggap sebagai sebuah peristiwa komunikasi, maka karya seni rupapun dapat dianggap sebagai bahasa, sehingga setiap elemen rupa dan rekayasa sturkturnya yang ada dalam sebuah karya rupa  adalah identik dengan kata dan gramatika. Lukisan sebagai bahasa simbolis memang menciptakan  situasi yang simbolis, artinya  penuh tanda tanya tentang hal-hal yang diungkap maksud dan arti  yang dikandung dalam simbolnya.  Dalam situasi simbolis maka sebuah lukisan bukan bermaksud menerangkan atau menguraikan sesuatu. Sebab sesuatu yang simbolis bila diterangkan atau diberi penjelasan mendetail akan berkurang atau bahkan kehilangan daya simbolisnya.
Namun ada kalanya bahasa rupa tidak digunakan dalam maknanya yang simbolis, tetapi memang untuk menjelaskan gejala-gejala visual yang sangat nyata, bilamana diterangkan secara verbal maupun dengan bahasa yang lain akan tidak efektif atau bahkan memungkinkan mengalami pendistorsian maksud /makna.
Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa, karya seni sebagai bahasa memiliki 2(dua) potensi, yaitu potensi sebagai bahasa simbolik dan potensi sebagai bahasa rupa, gerak dan suara secara denotatif. Dalam rangka mengkomunikasikan gagasannya, potensi mana yang dipilih oleh seniman untuk dimasukkan dalam karyanya sangatlah tergantung pada tujuan komunikasinya. Ketika muncul kesadaran bahwa eksistensi kita menjadi lebih berarti bila kita berkomunikasi dengan lingkungan, maka saat itulah kita memerlukan alat komunikasi; dan alat tersebut bernama bahasa.
Dalam artian yang luas, bahasa tidaklah sekedar ucapan, tetapi lebih pada sifatnya yang simbolik. Dan dalam kaitannya yang simbolik tersebut bahasa dapat berupa gerak, bunyi, warna, garis dan pendek kata segala hal yang dapat dipersepsi oleh manusia lewat indera dan telah memberikan dampak psikhologis, kemudian ditafsirkan arti dan maknanya. Itulah saya lebih setuju bahwa karya seni adalah sebuah re interpretasi dari interpretasi kultural. Karya seni adalah tafsir dari tafsir, sehingga kehadirannya bukanlah dari kekosongan belaka, bukan suatu perbuatan yang asal-asalan.
Seni dan Komunikasi..
Wujud sebuah karya seni pada dasarnya adalah representasi pengalaman pengalaman estetis seorang seniman ketika dia mencoba mencari jawaban atas apa yang ada dibalik gejala yang ditangkap oleh inderanya . Oleh karena itu  dalam melihat sebuah karya seni masalah bentuk dan isi karya adalah masalah yang saling berkait. Bentuk adalah segala hal yang membicarakan faktor intrinsik karya, mulai unsur, struktur, simbol, metafora dan lain sebagainya. Sedangkan persoalan isi mempertanyakan nilai kognitif-informatif, nilai emosi-intuisi, nilai gagasan, dan nilai nilai hidup manusia.
Ada dua pendapat tentang keberadan nilai dalam sebuah karya seni. Ada yang bependapat bahwa nilai seni sebuah karya terletak pada benda dan senimannya; Namun dapat pula pencarian hakekat seni dilakukan dari aspek penerima seni; Artinya nilai sebuah karya seni tidak terletak pada bendanya atau penciptanya, akan tetapi kepada penerimanya. Kalau dilihat dari kaca mata komunikasi maka bukan komunikator dan media yang membuat sebuah pesan itu berarti dan bermanfaat akan tetapi adalah interpretasi komunikanlah yang menjadikan  pesan itu bermakna.
.
Dalam komunikasi seni ada tiga unsur utama yang terlibat sacara saling terkait yaitu, seniman, benda seni dan  publik seni. Bersatunya unsur unsur komunikasi seni ini dalam satu peristiwa seni akan melahirkan  apa yang dinamakan pengalaman seni.
Benda seni yang diciptakan seniman akan diterima nilai nilainya oleh publik seni dalam konteks sosio budayanya. Dan bila yang ideal ini betul betul terjadi maka komunikasi seni akan berjalan secara sehat; Namun dalam kenyataan di lapangan tidaklah selalu demikian. Dalam masyarakat yang terbuka terhadap informasi nilai, persoalan komunikasi seni ini tidak lagi mudah terjalin sebab adakalanya nilai seni yang diterima dan dipahami senimannya tidaklah selalu sama, bahkan berbeda jauh dengan nilai seni yang diterima dan dipahami masyarakat atau publik seni, Sehingga mudah sekali terjadi kesalah penafsiran terhadap pesan.  Pertama, sebenarnya tidak ada karya seni yang rumit dan buntu. Karya seni yang sejati, sebagaimana lembaga kebenaran yang lain, selalu jujur, jelas, dan transparan, sebab yang ingin dicapai adalah kebenaran. Struktur jiwa manusia, dalam hal perasaan, intuisi, bawah sadar dan berpikir, sama saja dari dulu hingga sekarang. Apa yang dirasakan dan dipikirkan manusia dimanapun sama. Hanya cara mengungkapkannya itulah yang berbeda beda; Terutama dalam aspek intrinsik struktur seninya. Dan penguasaan struktur inilah yang menjadi bagian vital yang harus dikuasai oleh seorang seniman dalam berkarya. Tanpa penguasaan struktur sulit bagi seniman untuk mengolah dan  mengungkapkan perasaan, pikiran serta pengalamannya menjadi sebuah informasi yang akan ditransmisikan pada publik seni (komunikan). Demikian juga publik seni, tanpa mengerti, memahami ,menghayati struktur keindahan akan sulit menangkap maksud seniman lewat media yang dimiliki dan diolah.
Kedua, seperti telah disinggung di atas bahwa kemunculan karya seni tidaklah bebas dari konteks nilai, baik nilai sosial , ideologi, politik  maupun struktur sosial dan sebagainya atau sering disebut nilai ekstrinsik. Pemahaman terhadap konteks nilai inilah untuk Indonesia menjadi salah satu sumber masalah kesenjangan informasi yang mengakibatkan  terjadinya gap dalam berkomunikasi. Di satu fihak seniman yang berlatar belakang pendidikan seni secara formal, dimana pengetahuan dan nilai nilai yang dipelajari mengacu pada nilai nilai yang non Indonesia, sementara di fihak lain nilai nilai modern yang ada dalam masyarakat belum menampakkan wujud bentuknya yang jelas dan nilai nilai lama sudah tak jelas pula.
Untuk membangun sebuah komunikasi, orang perlu memahami elemen elemen dasar yang digunakan dalam menyampaikan pesan. Untuk itulah di bawah ini akan dibicarakan tentang elemen –elemen dasar tentang komunikasi visual.
Kapanpun bila sesuatu itu didisain, digambar (termasuk difoto), dilukis, diskets dibangun, dan dipatungkan bahan dasar dari karya tersebut adalah elemen visual. Pengertian elemen visual hendaknya jangan dicampur adukkan dengan pengertian media atau bahan atau material yang digunakan. Yang dimaksud media /bahan/material dalam seni rupa adalah  misalnya kayu, kertas, cat, tanah liat atau film. Sedangkan elemen visual adalah substansi dasar dari apa yang kita lihat dan tidak tunggal. Titik, garis, bidang, warna, teksture, dimensi, skala dan gerak adalah substansi dasar tersebut.
Elemen-elemen visual tersebut  merupakan bahan mentah seluruh informasi visual dalam pilihan pilihan selektif dan kombinasi di antara elemen tersebut.. Struktur kerja visual adalah kekuatan yang menentukan elemen  visual mana yang disajikan dan dengan tekanan apa.

analisis wacana dialog


ANALISIS WACANA DIALOG
Oleh Nurul Hikmah

  1. Transkrip Dialog
Wawancara Luna Maya dengan TV One
Reporter          :  Selamat siang Mbak Luna?
Luna                :  Siang.
Reporter          :  Pertama kali yang ingin saya tanyakan, mungkin bisa dijelaskan,
bagaimana kronologisnya awal hingga sampai sekarang ini?
Luna                : Ya, mungkin ada satu insiden kecil. Ya di satu insiden yang terjadi pada       
saat sebelum moment Twit itu, ya gitu. Jadi ada satu insiden yang menurut saya cukup kecewa, bahkan sangat kecewa sampai itu terjadi, adalah terkenanya kamera ke anak kecilyang sedang saya gendong, yang sedang tertidur. Padahal saya sudah meminta, saya sudah menghimbau, sebentar ya, saya lagi mau menidurkan, bukanmenidurkan, saya mau menaruh anak kecil ini di mobil, yang sedang tertidur.
                        Jadi setelah itu, baru saya mau wawancara. Karena, ya ini anak kecil tanggung jawab saya. Saya harus melindungilah gitu. Dan rasanya kurang etis, saya diwawancarai sedang menggendong anak kecil.
                           Mungkin kata-kata saya, yang bilang saya sebentar itu kurang digubris atau kurang adanya kesabaran, gitu. Sehingga terjadilah, ribet bangetlah. Saat itu benar-benar ribet karena kamera banyak, ini, dan saya sedang berjalan. Akhirnya anak yang sedang saya gendong itu terbentur kamera.
Reporter          :  Sampai terluka?
Luna                :  Memang enggak, tapi ya bagaimanapun itu, itu kan tidak boleh terjadi.
Karena kan, ini kan sudah tanggung jawab saya. Kalau terluka akan lebih parah lagi.
Reporter          :  Itu yang kemudian Luna menjadi emosional menumpahkan di Twiter?
Luna                : Sebenarnya ini akumulasi aja sih gitu. Karena banyak kejadian-kejadian
atau banyak pemberitaan-pemberitaan tentang saya yang sepihak sebenarnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini yang membuat saya merasa bahwa, kenapa kok seperti ini ya, kenapa seperti itu.
Akhirnya itu menjadi satu akumulasi yang numpuk. Akhirnya, ya seperti ini.

  1. Analisis  Wacana Dialog
Dalam menganalisis sebuah wacana dialog, ada beberapa aspek analisis yang harus diperhatikan. Yaitu:
1. Kerjasama Partisipan
Adalah keterlibatan partisipan dalam membentuk suatu percakapan lengkap dengan unsur-unsur yang dibutuhkannya. Baik dalam bentuk tuturan maupun unsur pendukung bahasa.
Berdasarkan kerjasama partisipannya, terdapat semua unsur-unsur kerjasama dalam percakapan (maxim) yang dikemukakan oleh Grice, yaitu:
a)      Maxim Kuntitas, artinya kerjasama berbentuk jawaban yang belum pasti.
Contohnya pada percakapan berikut:
Reporter:  Pertama kali yang ingin saya tanyakan, mungkin bisa dijelaskan,
  bagaimana kronologisnya awal hingga sampai sekarang ini?
Luna       : Ya, mungkin ada satu insiden kecil. Ya di satu insiden yang terjadi pada      
 saat sebelum moment Twit itu, ya gitu.
b)      Maxim Kualitas, artinya kerjasama dalam bentuk jawaban yang sesuai.
Hal ini bisa dilihat pada percakapan berikut:
Reporter          :  Selamat siang, Mbak Luna?
Luna                :  Siang.
c)       Maxim Relasi Yang artinya kerja sama dalam bentuk jawaban yang belum sesungguhnya, bergantung pada interpretasi. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut ini:
Reporter : Itu yang kemudian Luna menjadi emosional menumpahkan di Twiter?
Luna    : Sebenarnya ini akumulasi aja sih gitu. Karena banyak kejadian-kejadian
atau banyak pemberitaan-pemberitaan tentang saya yang sepihak sebenarnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini yang membuat saya merasa bahwa, kenapa kok seperti ini ya, kenapa seperti itu.
Akhirnya itu menjadi satu akumulasi yang numpuk. Akhirnya, ya seperti ini.
d)     Maxim Cara, artinya kerja sama berbentuk jawaban yang tidak langsung menjawab pertanyaan karena kebiasaan. Maxim cara ini terdapat pada wacana dialog berikut:
Reporter          :  Sampai terluka?
Luna                :  Memang enggak.

2. Tindak Tutur (Speech Act)
Richard mengartikan sebagai sesuatu yang kita lakukan dalam rangka berbicara atau suatu unit bahasa yang berfungsi di dalam sebuah percakpan.
  • Berdasaran Jenis tindak tuturnya, ada dua jenis tindakan yang terdapat dalam wacana dialog di atas yaitu tindakan direktif dan  tindakan ekspresif,yaitu tindakan yang mencakup perasaan dan sikap.
a)      Tindakan Direktif, yaitu tuturan yang berfungsi  mendorong pendengar untuk melakukan sesuatu, seperti mengusulkan, mendesak, dan memohon.
Contohnya terdapat pada percakapan berikut:
Luna          : Memang enggak, tapi ya bagaimanapun itu, itu kan tidak boleh      terjadi.
Reporter : Itu yang kemudian Luna menjadi emosional menumpahkan di Twiter?
Dalam percakapan ini terlihat reporter sebagai pendengar, melakukan tindakan direktif, yaitu mendesak Luna agar mau berbicara mengenai kemarahannya di sebuah jaringan sosial Twitter.

b)      Tindakan Ekspresif, yaitu tindakan yang mencakup perasaan dan sikap.
Contohnya terdapat pada percakapan berikut:
Reporter    : Sampai terluka?
Luna          :Memang enggak, tapi ya bagaimanapun itu, itu kan tidak boleh terjadi. Karena kan, ini kan sudah tanggung jawab saya. Kalau    terluka akan lebih parah lagi.
            Dalam percakapan di atas, bisa dirasakan nada kemarahan dari Luna Maya.

  • Berdasarkan Sifat hubungannya, wacana dialog di atas merupakan tindak tutur lokusi, yaitu tindak tutur yang dilakukan pembicara berhubungan dengan mengatakan sesuatu, seperti memutuskan, mendoakan, merestui, dan menuntut.
Luna    : Memang enggak, tapi ya bagaimanapun itu, itu kan tidak boleh terjadi.
Karena kan, ini kan sudah tanggung jawab saya. Kalau terluka akan lebih parah lagi.   
Dalam penggalan percakapan di atas bisa dilihat, adanya tindak tutur lokusi yang dilakukan pembicara berhubungan dengan mengatakan sebuah harapan agar insiden itu tidak terjadi lagi.
  • Berdasarkan Hakikat pemakaiannya, dalam wacana dialog ini hanya terdapat satu hakikat pemakaian tindak tutur, yaitu tindak tutur sopan santun (politeness). Tindak tutur sopan santun biasa dijumpai pada percakapan pertama antara orang yang baru berkenalan. Pada waktu itu kedua belah pihak menunjukan tindak dan saling menghormati dan menggunakan tutur yang seimbang pula. Juga bisa dijimpai pada pembicara yang berbeda status sosial.
Dalam wacana dialog di atas, tindak tutur sopan santun bisa kita lihat pada percakapan berikut ini:
Reporter          :  Selamat siang, Mbak Luna?
Luna                :  Siang.
Catatan:
Ada beberapa aspek-aspek analisis yang tidak ditemukan dalam wacana dialog di atas, diantaranya:
Dalam aspek tindak tutur
  • Berdasarkan  jenis Tindak Tuturnya,dalam wacana dialog di atas tidak ditemukan jenis-jenis tindakan berikut ini:
1.      Tindakan refresentatif, yaitu tindakan dari penutur yang berfungsi menetapkan atau menjelaskan sesuatu itu  seperti apa adanya.
2.      Tindakan komisif, yaitu tuturan yang berfungsi mendorong pembicara melakukan sesuatu, seperti tindak berjanji, bernazar, bersumpah.
3.      Tindak deklaratif, yaitu tuturan yang berfungsi memantapkan , membenarkan sesuatu tindak tutur yang lain.
  • Berdasarkan hubungan tindak tuturnya, tidak terdapat hubungan tindak tutur berikut:
1.      Tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang dilakukan pembicara berkaitan dengan perbuatan dalam hubungan dengan mengatakan sesuatu.
2.      Tindak tur paralokusi, yaitu tindak tutur yang mengakibatkan lawan bicara bertindak suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu.
  • Berdasarkan hakekat pemakain tindak tuturnya, tidak ditemukan hakekat pemakaian berikut:
1.      Tindak tutur penghormatan, biasanya ditemukan pada situasi percakapan kedua belah pihak yang berbeda status soaialnya, misalnya murid dengan guru, orang tua dengan anak.
2.      Tindak tutur tidak menghiraukan, yaitu tindak tutur yang tidak memperhatikan atau menganggap enteng. Tindak tutur ini dapat ditemukan pada dua macam situasi. Pertama karena tidak disengaja. Kedua karena sengaja.